Download

7 Makanan Lezat Rendah Kalori Untuk Menurunkan Berat Badan

Beberapa Makanan Sehat Lezat tetapi rendah kalori yang bisa dikonsumsi untuk menurunkan berat badan anda..

Kenapa Sarapan Penting Untuk Menurunkan Berat Badan?

Penjelasan singkat tentang arti penting sarapan dalam proses menurunkan berat badan...

5 Tips Agar Tetap Termotivasi dalam Menurunkan Berat Badan

5 Tips sederhana agar kita tetap termotivasi dalam proses menurunkan berat badan...

12 Langkah Awal Menurunkan Berat Badan Anda

12 Panduan sederhana sebagai langkah awal menurunkan berat badan

6.5 Kesalahan Paling Fatal Dalam ber-Diet

Beberapa Kesalahan Fatal yang sering dilakukan oleh orang-orang yang menjalankan program diet...

January 15, 2009

Para Ahli Temukan Gen Penyebab Penyebaran Kanker

Para ahli dari Amerika Serikat menemukan satu gen yang berperan penting dalam meningkatkan kemungkinan penyebaran sel kanker payudara dan meningkatkan resistensi kanker terhadap kemoterapi.

Mereka menemukan bahwa orang-orang yang mengidap kanker ganas mempunyai perubahan genetik yang tidak normal pada satu sel yang disebut dengan MTDH, obat-obatan yang bisa menghambat gen ini bisa mencegah sel tumor mengalami metastasi atau penyebaran, serta meningkatkan harapan hidup pengidap kanker payudara.

"Penemuan ini merupakan pencerahan dalam upaya pengembangan obat yang dapat menghambat metastasi," kata dr. Michael Reiss dari The Cancer Institute New Jersey di New Brunswick.

Menghentikan penyebaran kanker sangatlah penting, mengingat 98% pasien yang kankernya belum menyebar dapat bertahan hidup selama 5 tahun ke depan atau lebih sedangkan hanya 27% pasien yang kankernya telah menyebar, mampu bertahan hidup.

Reiss dan Yibin Kang dari Universitas Princeton menggunakan beberapa pendekatan penelitian yang berbeda untuk menemukan gen ini, yang membuat sel-sel tumor tetap berada di pembuluh-pembuluh darah, jauh dari organ-organ lain.

Para peneliti menggunakan data dari komputer mengenai tumor payudara dan menemukan bahwa pada orang-orang yang mengidap kanker payudara ganas, terdapat banyak segmen kecil dari kromosom 8 manusia.

Pada sebagian besar DNA normal hanya terdapat 2 kopi gen, sedangkan pada tumor payudara terdapat 8 kopi segmen gen tersebut. Tim peneliti kemudian memriksa sampel dari 250 pasien untuk melihat ketidaknormalan genetik dan menemukan bahwa gen MTDH terlalu aktif dan berperan dalam tumor-tumor ganas.

Ada di setiap sel

"Gen ini ada di setiap 1 dari 4 sel," kata Kang," Bagaimanapun, tumor mendapatkan jumlah kopi ekstra dan menjadi berlebihan. Kami melihat 30-40% tumor kelebihan gen ini."

Para peneliti kemudian menginjeksi tikus percobaan dengan sel-sel tumor dari pasien yang mengalami perubahan genetik ini dan menemukan bahwa tikus-tikus ini juga membentuk tumor yang cenderung bersifat menyebar. Tumor-tumor ini juga cenderung resisten dengan pengunaan obat kemoterapi tradisional, seperti paclitaxel.

Tetapi, saat mereka mengubah tumor-tumor ini secara genetik, dengan menghambat gen MTDH, sel-sel tumor jadi kurang mampu menyebar dan lebih mudah ditangani dengan kemoterapi. Kang mengatakan, dia sangat berharap penemuan ini akan mendorog penemuan obat yang tidak hanya mencegah penyebaran kanker, tetapi juga obat yang membuat kanker lebih responsif terhadap pengobatan.

"Jika kita memiliki obat untuk menghambat jenis gen ini, itu bisa berfungsi ganda," kata Kang.

Menurut Kang, MTDH juga berperan dalam jenis kanker lainnya termasuk kanker prostat."Gen ini sepertinya mempunyai pengaruh yang luas," terang Kang.

Selain itu, menurut kang, ada kemungkinan untuk mengembangkan antibodi untuk menetralkan keaktifan gen MTDH. "Penemuan ini telah menarik perhatian para pembuat obat, saya optimis kami akan mencoba mengembangkan obat secepat mungkin," kata Kang.
(*/www.uk.reuters.com)

Hidup Sehat di Usia Senja

Kita tahu bahwa proses penuaan akan membuat Anda dan siapa pun juga lebih rapuh dan lebih mudah terserang penyakit. Tetapi, tahukah Anda apa penyebab proses penuaan dan hal apa yang bisa kita lakukan untuk memperlambat proses penuaan?

Proses Penuaan

Apa yang menyebabkan proses penuaan pada tubuh kita serta bagaimana pengobatan medis membawa perbedaan dalam hidup kita?

Batas usia

Peralatan kesehatan modern, obat, sanitasi dan gaya hidup hanya membawa pengaruh sedikit dalam memperpanjang angka harapan hidup manusia, tetapi semua hal ini telah membuat perbedaan pada beberapa orang yang menjalani usia tua dalam keadaan sehat.

Penyebab penuaan

Penuaan merupakan akibat adanya kerusakan dalam sel-sel tubuh kita. Perlu waktu yang lama agar kita bisa melihat dampak kerusakan sel yang bisa membahayakan kita, tetapi akhirnya kita tetap tidak bisa mengabaikannya.

Serat-serat protein yang membuat kulit dan dinding pembuluh darah kita elastis mengalami perubahan yang membuat kita kehilangan fleksibilitas yang vital. Jaringan DNA di dalam sel-sel juga mengalami kerusakan. Sebagai akibatnya, sistim produksi sel-sel energi akan gagal.

Oksidasi sebagai akibat serangan radikal bebas merupakan satu contoh penting. Oksidasi membuat besi berkarat, membuat lemak jadi tengik danmerusak buah yang telah dikupas serta sayuran. Oksidasi juga membuat kita tua.

Tubuh kita memproduksi enzim antioksidan yang melindungi tubuh dari serangan radikal bebas, tetapi pertahanan ini tidak bisa melindungi 100%.

Peran Gen

Umur panjang diturunkan dalam keluarga. Gen-gen yang mempengaruhi proses penuaan kelihatannya berperan dalam mempengaruhi seberapa baik tubuh mempertahankan dan memperbaiki sel-sel itu sendiri.

Penyakit yang berkaitan dengan proses penuaan seperti alzheimer juga mengandng komponen genetik atau bersifat diturunkan.

Faktor gaya hidup

Penuaan tidak sepenuhnya disebabkan oleh gen-gen kita. Kita masih bisa mengontrol beberapa aspek dalam proses penuaan. Gaya hidup kita memegang peranan penting. Kita yang menentukan, apakah kita ingin makan makanan yang membebani tubuh kita dengan lemak jenuh atau kita ingin makanan makanan yang kaya antioksidan untuk membantu sistim pertahanan tubuh.

Kita bisa berolahraga untuk memperbaharui dan memperbaiki otot-otot, paru-paru dan sistim sirkulasi darah kita agar tetap bagus, dan kita juga bisa meregangkan pikiran kita untuk menguatkan koneksi jaringan sel-sel otak.

Masa depan yang tidak pasti


Kita tahu bahwa proses penuaan mengejar di belakang kita, tetapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Beberapa orang tetap menjaga kesehatan mental mereka hingga berusia 100 tahun, sedangkan beberapa orang sudah mengalami demensia saat berusia 50 tahun. Beberapa orang mempertahankan mobilitas tubuh mereka, tetapi yang lainnya mengalami radang sendi, dan kesusahan mempertahankan mobilitas tubuhnya.
(*/www.bbc.co.uk/health)

Penulis : Ikarowina Tarigan

January 10, 2009

Sering Makan Bikin Gendut?

Sejak lama sudah dikenal sebuah pola makan sehari 3 kali, yaitu makan saat pagi, siang, dan malam. Namun, akhir-akhir ini sudah terjadi pergeseran penilaian di masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan kesibukkan yang dilakukan. Banyak orang yang melompati waktu makan. Bahkan sekarang timbul pernyataan bahwa sering makan akan membuat gemuk. Benarkah mitos itu? Sekarang kami akan mencoba membahasnya.

Dibandingkan dengan memakan sejumlah besar makanan dalam satu kali kesempatan makan, lebih baik makanan dicicil dengan makan sedikit-sedikit dengan frekuensi lebih sering. Memakan sejumlah besar makanan dalam satu kali kesempatan makan justru dapat merugikan tubuh. Saat sejumlah besar makanan masuk ke dalam saluran pencernaan, tubuh kita akan cenderung untuk:
• memperlambat laju pencernaan untuk menyesuaikan dengan kemampuan usus dan lambung untuk mencerna makanan. Hal ini memungkinkan semakin banyak jumlah makanan yang akan diserap oleh tubuh.
• terjadi peningkatan tajam kadar gula darah. Beberapa jam setelah makan, saat kadar gula dalam darah sudah berkurang karena telah digunakan tubuh, tubuh akan cenderung meminta peningkatan kadar gula darah yang sama besarnya. Akibatnya, kita akan memiliki keinginan untuk makan banyak di kesempatan makan berikutnya
• terjadi perpindahan fokus aktivitas tubuh. Setelah makan banyak tubuh akan memusatkan aliran darah pada saluran pencernaan sehingga aliran ke bagian tubuh lain seperti otakdan otot akan berkurang. Bahkan terdapat banyak laporan mengenai penurunan tingkat konsentrasi pada sejumlah orang, mempermudah terjadinya lemah otot bila setelah makan berat dilanjutkan kegiatan olahraga.

Mencicil makanan sedikit-sedikit dengan frekuensi sering lebih baik karena laju pencernaan akan lebih cepat, kadar gula darah lebih stabil, dan tidak terjadi perpindahan fokus aktivitas tubuh yang merugikan setelah makan juga dapat lebih menjaga kesehatan lambung dan usus. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Jenis makanan
Makanan yang mengandung lemak akan diserap lebih lambat di dalam tubuh dibandingkan dengan makanan yang mengandung protein dan karbohidrat. Hal ini karena lemak hanya dicerna di dalam usus halus dan akan memperlambat kerja lambung sehingga lemak lebih lambat memberikan rasa kenyang. Orang yang memakan karbohidrat akan lebih cepat merasa kenyang karbohidrat lebih cepat dicerna dalam tubuh namun lebih cepat merasa lapar.

Normalnya, penyerapan makanan di usus halus juga membutuhkan energi dalam jumlah tertentu. Penyerapan karbohidrat membutuhkan energi yang lebih banyak dibandingkan dengan penyerapan lemak sehingga memakan banyak produk yang mengandung lemak lebih mudah menimbulkan penumpukan energi yang tidak terpakai.

2. Jumlah makanan yang dimakan
Tentu saja harus diingat bahwa protein, lemak, dan karbohidrat dalam jumlah sama dapat menghasilkan jumlah energi yang berbeda. Lemak menghasilkan energi yang paling besar.

3. Cara pengolahan makanan
Makanan yang diolah dengan cara digoreng akan mempermudah penimbunan kolesterol jahat (Low Density Lipoprotein/LDL). LDL dapat dengan mudah menumpuk dalam pembuluh darah, lalu mengakibatkan penyempitan pembuluh darah sehingga aliran darah menjadi tidak lancar. Hal ini akan menimbulkan peningkatan kerja jantung dan berbagai penyakit lainnya. Makanan yang dioleh dengan cara direbus atau dikukus lebih sehat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sherwood, Lauralee. Human Physiology, From Cell to System.
2. Guyton and Hall. Textbook of medical physiology.
3. Krausse. Modern Nutrition Health and Disease.
4. www.emedicine.com
5. www.tanyadokteranda.com

Mengenal Lebih Dekat Hamil Anggur

Kehamilan merupakan suatu anugerah paling membahagiakan bagi sebagian besar wanita. Tapi bagaimana jika janin yang dikandung tidak berkembang sebagaimana yang diharapkan, misalnya jika kehamilan yang terjadi ternyata hanyalah hamil anggur saja. Hamil anggur bagi seorang wanita bagaikan sebuah mimpi buruk, harapan yang hilang begitu saja. Lalu, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan hamil anggur itu?

Kejadian hamil anggur terjadi pada 1 dalam 1500 kehamilan di Amerika Serikat dan Eropa. Ternyata jumlah kejadian tersebut jauh lebih sering terjadi di bagian dunia lain seperti di Asia (misalnya di Taiwan, insidensinya sekitar 1 dari 125 kehamilan). Ini menunjukkan adanya peranan ras dalam kasus hamil anggur.

Hamil anggur atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan nama mola hydatidosa sesungguhnya merupakan tumor jinak dari vili korion, yang dapat terjadi pada wanita dalam masa reproduksi. Pada pemeriksaan, terlihat gelembung-gelembung yang berasal dari vili yang mengalami perubahan patologis dan berisi cairan jernih. Umumnya tidak ada janin pada peristiwa hamil anggur, namun terkadang pada kasus mola partialis/sebagian terdapat janin atau paling tidak kantong amnion. Akan tetapi, tetap saja janin biasanya tidak dapat dipertahankan dan akan mengalami keguguran.

Pada kasus mola hydatidosa, indung telur wanita dapat mengandung kista lutein (bisa salah satu atau pada kedua indung telur) yang akan hilang dengan sendirinya setelah mola dikeluarkan. Selain itu, dari pemeriksaan kromosom pada gelembung-gelembung tersebut, didapatkan kasus poliploidi dan hampir pada semua kasus mola ternyata susunan seks kromatinnya adalah wanita (46, XX).

Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata usia ibu saat hamil memiliki peranan penting sebagai faktor pertahanan terhadap kejadian hamil anggur. Diketahui tingginya frekuensi kejadian hamil anggur terjadi diantara kehamilan yang berada dalam periode mendekati akhir masa reproduksi. Wanita dengan umur lebih dari 45 tahun relatif mempunyai kemungkinan mengalami hamil anggur sebanyak 10x lebih besar dibandingkan mereka yang masih berusia 20-40 tahun.

Penyebab sesungguhnya dari hamil anggur belum diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi persentase kemungkinan seorang wanita untuk mengalami hamil anggur, antara lain: sering keguguran, status gizi kurang baik, kekurangan vitamin (misalnya vitamin A atau asam folat), gangguan peredaran darah di rahim.

Gejala-gejala hamil anggur (pada pasien yang amenorrhae/terlambat haid):
1. Pendarahan terus-menerus pada minggu ke 12 kehamilan (bervariasi, bisa hanya bercak-bercak sampai pendarahan dalam jumlah banyak, seringkali berwarna kecoklatan). Biasanya menyebabkan anemia dan kekurangan zat besi.
2. Pembesaran perut (pertumbuhan ukuran rahim) tidak sesuai dengan usia kehamilan atau lebih cepat dari biasanya (misalnya hamil 1 bulan terlihat seperti hamil 3 bulan).
3. Mual-mual dan muntah lebih sering terjadi dan durasinya lebih lama.
4. Timbul tekanan darah tinggi yang terkait kehamilan (jika terjadi sebelum minggu ke 24 mengarah pada hamil anggur).
5. Tidak ada tanda-tanda adanya janin (tidak ada bunyi detak jantung anak, rangka janin tidak nampak pada hasil rontgen).
6. Kadar hormon korionik gonadotropin (HCG) tinggi dalam darah dan air kencing ibu.
Walaupun banyak gejala yang bisa kita gunakan untuk memperkirakan hamil anggur, diagnosa pasti baru bisa kita dapatkan setelah melihat lahirnya gelembung-gelembung mola.

Selain dengan melihat gejala-gejala yang ada, dapat juga dilakukan pemeriksaan untuk menegakkan diagnosa, antara lain:
? Rontgen: untuk melihat rangka bayi, tapi jika tidak terlihat belum tentu terjadi hamil anggur.
? Reaksi biologis dengan Galli Mainini: pengukuran kadar gonadotropin secara kuantitatif.
? Percobaan sonde: pada hamil anggur, sonde mudah masuk, sedangkan pada kehamilan biasa, ada tahanan dari janin.
? Suntikan zat kontras ke dalam uterus: memperlihatkan gambaran sarang tawon.
? USG: memperlihatkan gambaran badai salju.

Hamil anggur atau mola hydatidosa merupakan salah satu penyebab kematian pada ibu hamil. Kematian yang terjadi umumnya disebabkan oleh :
1. perdarahan
2. perforasi/terjadinya lubang akibat gelembung menembus dinding rahim
3. infeksi, sepsis
4. kanker korion (choriocarcinoma): terjadi pada mola hydatidosa lengkap yang merupakan penyebab utama dari choriocarcinoma

Karena mengandung bahaya kematian, maka hamil anggur harus segera ditangani. Penanganan terhadap hamil anggur meliputi 2 tahap, yaitu pengguguran sesegera mungkin, dan melakukan pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya gejala-gejala kanker korion (choriocarcinoma). Tindakan pengguguran harus dilakukan segera supaya kehamilan yang tidak normal itu tidak bertambah besar dan merusak kondisi ibu. Pada wanita usia subur yang masih menginginkan anak dilakukan dengan cara kuret, sedangkan pada wanita usia lanjut atau yang sudah tidak menginginkan anak dapat dilakukan pengangkatan rahim (histerektomi).

Pengguguran dan kuret harus disertai dengan transfusi darah karena ada kemungkinan besar terjadi perdarahan yang banyak. Kemudian kira-kira 10-14 hari setelah kuret pertama, dilakukan kuret kedua yang bertujuan untuk menghasilkan rahim yang benar-benar bersih.

Wanita yang mengalami mola hydatidosa boleh hamil lagi, tetapi harus menunggu sampai pemeriksaan pengawasan selesai dilakukan. Bagi wanita yang belum mempunyai anak dianjurkan menunda kehamilan selama 1 tahun, sedangkan bagi wanita yang sudah mempunyai anak dianjurkan untuk tidak hamil dulu selama 2 tahun.

Sumber :
-Ilmu Kebidanan Patologi. Bagian Ilmu Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung
-Williams Obstetrics, 16th Edition
- www.hanyawanita.com
- http://www.freewebtown.com/cakmoki/ebook/mola_hidatidosa.pdf
- www.tanyadokteranda.com

Cara Praktis Hitung Kebutuhan Kalori Tubuh



Tidak hanya untuk mereka yang ingin menurunkan berat badan, tetapi semua orang ternyata juga harus mengatur menu diet atau menu makanan sehari-harinya. Terlalu banyak makan dapat menyebabkan kelebihan berat badan, dan sebaliknya, terlalu sedikit makan dapat menyebabkan kekurangan gizi.

Bagi yang sudah terlanjur memiliki berat badan berlebih, mereka harus menyusun menu dietnya agar tetap mencukupi kebutuhan metabolisme sehari-harinya, namun tidak menyebabkan penumpukan makanan berlebih dalam tubuh. Begitu juga sebaliknya bagi mereka yang kekurangan gizi.

Oleh karena itu, pengaturan menu diet sebaiknya diterapkan pada semua orang, dengan memperhatikan proporsi karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral, serta zat-zat lain dalam tubuh, sehingga seluruhnya berada dalam porsi yang seimbang.

Lalu, bagaimana caranya mengatur sendiri menu diet Anda? Sebelumnya, mari hitung dulu kebutuhan kalori Anda.

Untuk menghitung kebutuhan kalori basal/KKB (kalori yang Anda butuhkan untuk kegiatan sehari-hari) dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut:

LAKI-LAKI = 66 + (13.7 x BB) + (5 x TB) - (6.8 x U)
WANITA = 65.5 + (9.6 x BB) + (1.7 x TB) - (4.7 x U)

Keterangan:
BB = Berat Badan ideal (kg)
TB = Tinggi Badan (cm)
U = Umur (tahun)

Dengan perhitungan KKB seperti cara di atas, maka baik kelebihan maupun kekurangan berat badan dapat diatasi dengan mengkonsumsi makanan sesuai dengan kebutuhan kalorinya untuk berat badan yang ideal.

Selain itu, di Indonesia juga sering digunakan perhitungan Kebutuhan Kalori Basal yang lebih simpel, yaitu:

KKB = 40 x (TB - 100)
Dengan faktor koreksi:
Stress ringan (1) : 1.3 x KKB
Stress sedang (2) : 1.5 x KKB
Stress berat (3) : 2.0 x KKB

Sementara itu, ada 2 cara sederhana menghitung berat badan ideal:

Cara 1:
BB ideal = (TB - 100) - (0.1 x (TB – 100))

Cara 2:
Menggunakan Body Mass Index(BMI)/Indeks Massa Tubuh (IMT)

Berat Badan (Kg)
IMT = —————————
TB(m) X TB (m)

IMT ideal pada pria dan wanita:

Wanita
13-17 : dibawah ideal (terlalu kurus/anoreksia)
19-24 : IDEAL
26-31 : Obesitas (kegemukan)

Pria
14-18 : dibawah ideal
20-25 : IDEAL
28-33 : Obesitas

MENYUSUN MENU DIET ANDA

Setelah mengetahui kebutuhan kalori, Anda dapat memulai menyusun menu diet Anda sesuai proporsi zat-zat makanan yang seimbang, yaitu:
• Karbohidrat 60-75%
• Protein 10-15%
• Lemak 10-25%

Kalau Anda sudah menghitung jumlah kalori ideal untuk Anda, Anda dapat menghitung jumlah masing-masing kalori untuk karbohidrat, protein, dan lemak berdasarkan persentase di atas.

Kemudian, jumlah kalori yang Anda dapatkan per jenis zat dapat dibagi lagi menjadi beberapa jenis makanan. Misalnya, untuk karbohidrat dapat diperoleh dengan mengkonsumsi nasi, kentang, makaroni, ataupun roti.

Yang menyenangkan, setiap jenis makanan tersebut dapat diganti menjadi makanan lain dengan satuan penukar, sehingga Anda tidak bosan memakan jenis makanan yang itu-itu saja. Bahan makanan pada tiap golongan bernilai gizi hamper sama, oleh karena itu satu sama lain dapat salong menukar dan disebut satuan penukar.

Berikut adalah contoh beberapa daftar satuan penukar yang digunakan.

GOLONGAN I
Sumber Karbohidrat
1 satuan penukar = 175 kalori, 4 g protein, 40 g karbohidrat.

Bahan Makanan Ukuran Rumah Tangga Berat (g)
Nasi 1 gelas 200
Roti putih 3 potong kecil 70
Singkong 1 potong 120
Kentang 2 buah sedang 210
Makaroni ½ gelas 50

GOLONGAN II
Sumber Protein Hewani
1. Rendah Lemak
1 satuan penukar = 50 kalori, 7 g protein, 2 g lemak.

Bahan Makanan Ukuran Rumah Tangga Berat (g)
Ikan 1 potong sedang 40
Ayam tanpa kulit 1 potong sedang 40
Udang segar 5 ekor sedang 35

2. Lemak Sedang
1 satuan penukar = 75 kalori, 7 g protein, 5 g lemak.

Bahan Makanan Ukuran Rumah Tangga Berat (g)
Bakso 10 biji sedang 170
Daging kambing 1 potong sedang 40
Daging sapi 1 potong sedang 35
Telur ayam 1 butir 55

3. Tinggi Lemak
1 satuan penukar = 150 kalori, 7 g protein, 3 g lemak.

Bahan Makanan Ukuran Rumah Tangga Berat (g)
Ayam dengan kulit 1 potong sedang 55
Bebek 1 potong sedang 45
Sosis ½ potong sedang 50
Daging babi 1 potong sedang 50
Kuning telur ayam 4 butir 45

GOLONGAN III
Sumber Protein Nabati
1 satuan penukar = 75 kalori, 5 g protein, 3 g lemak, 7 g karbohidrat.

Bahan Makanan Ukuran Rumah Tangga Berat (g)
Kacang hijau 2 sendok makan 20
Kacang kedelai 2 ½ sendok makan 25
Tahu 1 biji besar 110
Tempe 2 potong sedang 50
Kacang tanah 2 sendok makan 15

Daftar lainnya dapat dilihat pada buku-buku Ilmu Gizi atau pada Referensi.

Dengan menhitung jumlah kebutuhan kalori basal, Anda kini dapat menyusun sendiri menu yang anda inginkan sesuai dengan proporsi zat-zat makanan bagi tubuh.

REFERENSI:
http://www.fitnessandfreebies.com/fitness/foodex.html
http:// health/public/heart/obesity/lose_wt/fd_exch.htm
http://www.info-sehat.com/
http://www.kalbe.co.id/cdk
http://www.nhlbi.nih.gov/
http://rjthoughts.wordpress.com/
Cerra FB. Pocket Mannual of Integral Nutrition. Princeton: Mosby
Co. 1984

December 1, 2008

Factors Of Health

The first factor of health is food. Nature-peoples are, as a rule, poorly fed. Their meals are irregular, generally poor in quality, and of ten insufficient in quantity. The roots, berries, and other foods which nature furnishes, are usually poor in nutritive qualities. Hence the savage is habitually underfed, since the system is starved even though large quantities of coarse food be taken. This simply means that the digestive organs are burdened with material which does not nourish, and causes a distension of the abdomen, as may be witnessed almost anywhere among the poorer classes of China, India, Turkey, Rumania, Russia, and some parts of Austria-Hungary, not to speak of countries in which savagery still prevails. When a good meal can be had, as after a successful hunt, the savage eats voraciously and without proper mastication; hence digestion is interfered with in a different way. The system is in a chronic state of starvation, and no proper vitality can be built up. This is true even in civilized countries among the poorer classes whose food supply is deficient in quality and quantity.

The second factor is housing; that is, anything that is necessary for protection against the inclemencies of nature. Little clothing may be needed in the tropics owing to the heat, but protection is necessary against the numerous disease-carrying insects. The Eskimo is well provided in regard to clothing, but his igloo or snow-hut compels him to live in vitiated air a great part of his life, similar to the overcrowding in the tenements of large cities.

The third factor is salubrity of climate. Where endemic diseases exist, the good effects of food and housing are often nullified. A region may be fertile and produce all kinds of food, the climate may be mild, but endemic diseases, e.g., malaria and hookworm, will keep vitality at a low ebb.

The fourth factor is heredity. With the inheritance of a good constitution a man may often be able to overcome the adverse conditions of the other factors, although he is likely to keep merely alive and refuse to succumb. With low hereditary vitality, a man is always handicapped, even though the other three factors be favorable. This is proved by the fact that life insurance companies will refuse policies to people in whose families certain diseases have occurred. When the other three factors are unfavorable, heredity is likely to be very poor.

The question concerning the relative importance of these factors is not decided, and is, perhaps, of more academic than practical interest. Biology is apt to lay stress on heredity, geography on environment, including food, climate, and housing. These two factors have been on the whole the chief agencies in developing man. Heredity has been the variable factor—shifting, plastic, progressive, or retrogressive; environment has been the constant factor—persistent, continuous, omnipresent, immutable. Man is always under the influence of his environment; it never sleeps. Yet all the influences of environment will not explain the difference between the Greeks of today and those of antiquity. The human factor surely claims attention, even though it be only a variable influence over against the immutable one of nature. The French had to give up digging the Panama Canal, because malaria and other tropical diseases killed about one-quarter of their employees every year. When the Americans went there in 1905, the Canal Zone was still the area of pest-ridden seaports, jungles, and marshes which it had been from time immemorial. Yet we have built the Canal by reducing the death rate to that of the healthiest cities in the United States. The variable human factor has triumphed over the immutable one of nature. It is in vain, then, to deny the efficacy of either factor. Each plays its role in the making of human history. But each enters into the problem of health, since that depends on both heredity and environment.

Suppose that environment be granted all that its advocates claim! Wherein does its influence ultimately consist? A valley may abound in the most varied and nourishing foods and in perennial sunshine; it will yet be uninhabitable for human beings if its soil sends forth all kinds of poisonous germs. A country may be bleak and cold, still people will live there if they are able to provide the minimum of food. The geographical factor resolves itself ultimately into one of health; and this has been the most important factor in man's rise above the state of nature.

The effects of vitality on civilization are both numerous and significant. Whatever the causes may be, low vitality means either low or erratic mentality. We are concerned here only with the former; the latter will be considered in the chapter on Health and Originality. Low vitality always means inability to adjust oneself to one's environment, or to control it. Even adjustment to unfavorable conditions implies, however, low mentality; the animal and the savage are ruled by their environment, civilized man controls it. Why this difference?

Animals have perfected certain instincts which are, as a rule, sufficient guides to their actions, and keep them, when in a normal condition, in fair health. They act with almost automatic precision, and thus save the animal a vast amount of useless expenditure of energy in mere trials to do something in a new way. But just because the reactions of animals are fixed, progress is barred and further development practically impossible. The honey bee is a good illustration in this respect. It has perfected the division of labor and everything is provided for the welfare of the hive. The arrangements for a communal life excite our admiration owing to their efficiency. Yet, there is no progress, because the various impulses which form the series of which each instinct consists are so fixed in their order that the bee cannot act differently without disaster. In other words, the bee has become a sort of living machine to do a certain kind of work; it functions without choice, hence there is very little power of adaptation or chance for variation. This is strikingly proved by the facts that the workers stultify themselves to feed the queen and the drones; that they rear hundreds of males instead of a dozen or two—ample for the function they are to perform—and that they have repeated the same actions without any material changes since time immemorial. They are slaves to their instincts, subject to the food which a comparatively small environment provides, and progress is barred. It is similar with higher animals, although the instincts are a little more elastic, giving a slightly larger sphere for choice and individual satisfaction. With this greater elasticity of the instincts was given the possibility of mind, and in proportion as we advance in the animal scale, mind becomes more prominent, until we come to man with his very much larger mentality. Just when and where this transition took place, is an unsolved problem, and may always remain so. Suffice it to say, that under unusually favorable circumstances the transition was made, and mind became for the first time an important item in evolution. For man, being equipped with but few and comparatively inefficient natural weapons, had to depend on the development of his mind if he was to live. This was the more necessary, since the gain he had made was dearly bought—it cost him the inerrancy of his instincts. Being no longer compelled to react in certain prescribed ways, he had to think, plan, and scheme. But that required relatively greater vitality or a surplus of energy, since the loss of the inerrancy of his instincts had deprived him of the more economical and frictionless expenditure of energy. Thinking in its early stages involves more or less useless expenditure, since it must proceed by the wasteful method of trial and error; this is the case even today, a good illustration being furnished by a new medicine, salvarsan, also called "606" by its inventor because the previous 605 experiments had failed to yield the desired results. High vitality could not be developed, however, in the tropics where endemic diseases were constantly counteracting the favorable factors of an ample food supply and mild climate. Hence only one course was left open—migration northward into more salubrious regions. In these migrations, only those who had the relatively highest vitality could engage. They were, like the pioneers of later times, the strongest and most active and most intelligent. This was the first and most primitive method of controlling nature—by migration—a method which animals share in to a certain extent. These migrations opened up new possibilities to man. He had to meet new situations in the way of enemies, adapt himself to new conditions of food, cross mountains and rivers, and in a hundred different ways develop new aptitudes. Every successful attempt opened up new vistas before him, and every new contact with nature or other men suggested new developments. In proportion as he proceeded into higher latitudes, his vitality rose, and he was thus better able to meet the demands involved in getting a living under the less prodigal climate of the temperate zone. He increased his control over nature, and became through increasing civilization less dependent on his immediate environment. The peoples who were unable or unwilling to migrate north, continued to live, but were hardly able to develop, and have remained in a stage of savagery or barbarism until today. And they are still almost entirely dependent on nature for all necessaries of life.

Along with this control of nature through the development of the intellect went a liberation of himself from the thraldom of instincts which still survive in him, e.g., for food and sex. These are practically inerrant in animals living in the state of nature, and are thus contributory to individual and social welfare. When, with the origin of man, mind assumed a more prominent part in evolution, it was at first primarily an abundance of feeling and imagination, controlled but little by reasoning; hence the numerous and often revolting orgies engaged in by savage and barbarous peoples. Occasional abundance of food, due to success in war or in the chase, always led to extraordinary exhibitions of excesses in both of these instincts, and were frequently continued even in higher civilizations, e.g., among Phoenicians and in India, when the food supply was regular. The poor nutrition of the savage produces an unstable mentality which inclines to extremes of excitement and joy, or of depression and melancholy. With an increasingly regular and better food supply, the physical organism becomes more stable and more capable of self-control, and at least the worst irregularities in the satisfaction of these instincts disappear. This statement is borne out by the fact that modern medicine looks upon too pronounced irregularities along these lines as due to malnutrition, if not disease. A brief consideration of morality will bring further corroboration of this reasoning.

As his intelligence increased, man soon recognized the injurious effects of excesses both upon himself, and upon those surrounding him. He formed, consequently, a crude code of ethics, put chiefly in the form of prohibitions, and enforced conformance to them by various punishments. But there were always those who could not be prevented by any kind of penalty—even the most severe—from acting contrary to ethical demands. Were they unwilling or unable to obey? The punishment meted out to them clearly shows the attitude of older civilizations in regarding them unwilling and therefore responsible; the modern attitude on the part of the enlightened just as plainly indicates that their shortcomings are considered due to physical defects.

"At the end of the best part of a life spent among prisoners, a prison surgeon declares himself to be mainly impressed with their extreme deficiency or perversion of moral feeling, the strength of the evil propensities of their nature, and their utter impracticability; neither kindness nor severity availing to prevent them from devising and doing wrong day by day, although their conduct brought upon them further privations. Their evil propensities are veritable instincts of their defective nature, acting, like instincts, in spite of reason, and producing, when not gratified, a restlessness which becomes at times uncontrollable. Hence occur the so-called breakings out' of prisoners, when, without apparent cause, they fall into paroxysms of excitement, tear their clothing and bedding, assault the officers, and altogether behave for a time like furious madmen."

The criminal is not necessarily endowed with bad qualities, but he lacks the coordinating power of a well-functioning brain. The defect may be due to some specific malformation, disease, or to malnutrition. Poor functioning in the case of the two former is so evident to any observer, that it need not be discussed. Concerning malnutrition, a few words are needed. The brain grows at a much smaller ratio than the other organs; this seems to indicate that the vegetative functions demand an increasingly larger share of the nutrition furnished. The organism must, first of all, live; whether its life is to be well-directed and efficient, is a secondary consideration. This is well illustrated by the fact that idiots, if protected against adversities, may live to middle age; and that after the stage of active thinking and reasoning is passed in the case of some old people, the vegetative functions continue sometimes for a number of years. Hence the inference would seem justified, that the brain receives only such nutrition as is not absolutely needed for the maintenance of life. In other words, where general vitality is low, the brain is likely to suffer first and most; and the cortex is likely to suffer most severely, since both the sensory and motor centers are needed for the mere maintenance of life. The power of coordination must, consequently, be small in persons of low vitality. And it is this particular ability which the immoral classes lack. They are unable to coordinate their actions to each other, hence the more or less pronounced impulsiveness of their behavior; they generally react on the stimuli of a particular organ, rather than on the demands of the system as a whole, i.e., they are under the sway of an organ which demands and receives more attention than it would receive in a well-balanced healthy organism; e.g., in the drunkard and dyspeptic, the stomach; in the nymphomaniac, the sexual appetite. These people lack, consequently, the power of coordination, and act in a self-centered manner. And from that condition to selfish action, there is only one step. In the case of those suffering from malnutrition with its consequent low vitality, it is either a special organ that is at fault, or a general lack of vigor on the part of all organs, making impossible a proper nourishment of the brain; hence a general lack of coordination, or hasty reaction on some external stimulus, due to the small inhibitory powers of the brain. For the unity of the organism not only suggests that the improper functioning of one organ affects all others, but also the special part of the brain with which it is in sympathy. "The internal organs are plainly not the agents of their special functions only, but, by reason of the intimate consent or sympathy of functions, they are essential constituents of our mutual life."

Summing up, then, we may say, that the moral element is an essential part of a complete and sound character, and is based on a sound body; it is the ability to coordinate one's actions to each other, and to those of other people.

When this ability is of a high order, we have sociality. For sociality demands not only that the individual should correlate his actions to those of other people, but that he should do so in a vigorous and efficient manner. Negative morality is still too frequent, and is the only possible thing for people of low vitality, as was shown above. Positive morality or sociality is possible only to those who, owing to large surplus energy, are able to coördinate in a comprehensive manner, accurately and quickly; and who have sufficient energy to infuse enthusiasm into others, and make them cooperate. A moral man may suggest new plans of action; the social man alone can unite the many in cooperation by virtue of his energy, which enables him to plan, scheme, and work for those whose vitality requires them to confine themselves to the most necessary activities. It is the vocation of these men to procure more goods than needed for immediate consumption, to provide some leisure for at least a small portion of the community, and eventually for all.


Source: http://www.healthguidance.org/authors/666/Rudolph-M.-Binder

Artikel Menarik Lainnya...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More