Download

November 22, 2011

Hubungan Obesitas dan Stroke


Obesitas berasal dari bahasa latin yang mempunayi arti makan berlebihan. Saat ini obesitas atau gemuk didefinisikan sebagai suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Pada umumnya obesitas terjadi karena makan berlebih (over-eating) yang tidak dibarengi oleh aktivitas fisik yang sesuai dengan asupan makanan. 

Obesitas dapat didefinisikan secara absolut ataupun relatif. Dalam praktek sehari-hari obesitas sering didefiinisikan secara absolut dengan mengukur indeks massa tubuh. Indeks massa tubuh diukur dengan membagi berat badan (dalam kilogram), dengan tinggi badan (dalam meter) kuadrat. Indeks massa tubuh diatas 25 disebut dengan berat badan berlebih, dan diatas 30 disebut dengan obesitas. Bayangkan seseorang memiliki berat badan 100 kg dengan tinggi badan 200 cm, maka ia memiliki indeks massa tubuh adalah 100/ (2)2 yaitu 25. Prevalensi obesitas terus meningkat dalam 20 tahun terakhir ini.



Fenomena peningkatan kasus obesitas tidak saja teramati di berbagai negara maju, namun juga di negara berkembang. Data National Center for Health Statistics (NCHS) menunjukkan bahwa hampir 1 dari 5 anak di Amerika Serikat mengalami kelebihan berat badan. Di Indoensia, survei sosial ekonomi nasional (SUSENAS) memperlihatkan bahwa prevalensi obesitas adalah 6,3% pada laki-laki, dan 8% pada perempuan. 

Obesitas seringkali dikaitkan dengan berbagai penyakit. Obesitas dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke sampai 2 kali lipat. Demikian pula obesitas dikaitkan dengan hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, osteoarthritis, dan depresi. Obesitas juga seringkali dikaitkan dengan berbagai masalah psikososial. Penelitian menunjukkan bahwa masalah psikologis (kecemasan dan depresi) seringkali dijumpai pada pasien dengan obesitas .


Gangguan psikologis pada obesitas dapat muncul karena 2 faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal muncul dari diri orang obese yang memiliki anggapan bahwa dirinya kurang menarik. Faktor eksternal berasal dari lingkungan, yang memberi stigma buruk pada penderitanya. Ejekan “gendut” seringkali terdengar untuk menyebut seorang anak yang mengalami obesiatas. 


Beban ekonomi yang muncul akibat obesitas merupakan penjumlahan biaya langsung (direct cost), biaya tidak langsung (indirect cost), dan biaya akibat hilangnya kesempatan (oppourtunity cost). Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa ada 39,3 hari kerja yang hilang pertahunnya akibat penyakit terkait dengan kegemukan. Sebanyak 16% dari perusahaan di Amerika Serikat menolak untuk mempekerjakan orang dengan obesitas. Di Indonesia, total pembiayaan langsung untuk penyakit obesitas adalah 278 miliar rupiah, atau sebesar 2% dari total pengeluaran kesehatan nasional.


Peningkatan obesitas dari tahun ke tahun ditengarai sebagai akibat dari perubahan gaya hidup. Perubahan pasar modern telah memacu perubahan gaya hidup. Hal ini diperkuat dengan berbagai penelitian yang ditampilkan dalam sesi poster. Penelitian Setyaningrum (2007) memperlihatkan bahwa 43,4% responden remaja usia pubertas sering mengkonsumsi makanan siap saji. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara konsumsi makanan cepat saji dengan kejadian obesitas. Hal ini diperkuat dengan penelitian Kadim, dkk (2007) yang menunjukkan bahwa kosumsi camilan dan makanan kecil lain secara berlebih merupakan faktor yang berperan untuk terjadinya obesitas pada anak. 


Ungkapan “the big is beautiful” mungkin tidak salah, namun obesitas memiliki dampak yang besar bagi kesehatan (baik fisik dan psikososial). Sama seperti penyakit lainnya, maka penanganan obsitas juga mengandung prinsip “mencegah lebih baik daripada mengobati.



source:strokebethesda.com

0 comments:

Post a Comment

Artikel Menarik Lainnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More